Sabtu, 09 Desember 2017

CONTOH PROPOSAL KUALITATIF



PERAN  KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN KERJA GURU DI SDN 04 CRANGGANG
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu: Eka Zuliana, S.Pd., M.Pd








Disusun oleh
Desi Aprilliani (201433055)

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muria Kudus
2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.  Judul Penelitian
Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam upaya meningkatkan disiplin kerja guru pada SDN 04 Cranggang.
1.2  Latar Belakang Masalah
Permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dalam satuan pendidikan. Menurut (Rompas, 2011: 29) sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan sekarang ini dihadapkan kepada berbagai permasalahan termasuk di dalamnya masalah yang berkaitan dengan tugas kepala sekolah begitu luas dan membutuhkan perhatian khusus seiring dengan perubahan-perubahan dan perbaikan serta perkembangan sistem pendidikan untuk selalu memperbaiki dan mengembangkan diri selaku tenaga kependidikan yang mempunyai kemampuan khusus sebagai manajer sekolah.
Untuk mewujudkan peningkatan mutu sumber daya manusia suatu bangsa, maka pemerintah mengambil salah satu kebijakan yaitu meningkatkan kualitas pendidikan, kegiatan yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan didalamnya termasuk pengembangan pelaksanaan proses belajar mengajar.
Menurut Rosdina (2015: 70) peningkatan mutu pendidikan secara mikro sangat ditentukan oleh operasionalisasi manajemen ditingkat sekolah. Rosdiana secara umum juga mengatakan pendidikan merupakan masalah penting yang harus mendapatkan perhatian dari semua pihak, peran utama dalam menjalankan pola manajemen sekolah terletak pada kepala sekolah dan seluruh komunitas sekolah, baik secara bersama-sama maupun individu karena kepala sekolah adalah orang yang tanggung jawab untuk menjalankan roda organisasi sekolah.
Menurut Manik (2011: 100) kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku para pemimpin dalam mengarahkan dan mengendalikan para bawahan untuk mengikuti kehendaknya dalam mencapai suatu tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Kepala sekolah adalah pemimpin sebuah lembaga pendidikan formal yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan belajar mengajar, serta mengembangkan potensi yang ada di lembaga tersebut. Kepala sekolah juga merupakan guru yang diberikan tugas tambahan untuk memimpin suatu sekolah yang memiliki posisi strategis dalam rangka menumbuh kembangkan kedisiplinan guru dan kinerja guru yang ada dalam sekolah itu sendiri.
Menurut Rosdina (2015: 70) kepala sekolah selalu dihadapkan pada tantangan untuk melakukan perubahan dan pengembangan pendidikan secara berencana, terarah dan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu kelulusan.
Berdasarkan hal tersebut, menunjukkan betapa penting peranan kepala sekolah dalam menggerakkan sekolah untuk mencapai tujuan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam peranan kepala sekolah, yaitu: (a) Kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sosial yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah dan (b) kepala sekolah harus Memahami tugas dan fungsional guru demi keberhasilan sekolah serta memiliki kepedulian kepada staf dan siswanya.
            Jadi berdasarkan uraian di atas kita dapat menyimpulkan kepala sekolah mempunyai peran penting dalam peningkatan disiplin kinerja guru. Peranan kepala sekolah harus menunjukkan sikap persuasif dan keteladanan sehingga dapat menjadi contoh terhadap disiplin kinerja guru.
            Menurut Manik (2011:  99) pendidik merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan. Manik juga menjelaskan bahwa pendidik merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Jadi pendidik atau guru merupakan pelaku utama dalam proses peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Disiplin kinerja guru mempunyai pengaruh besar terhadap pencapaian tujuan pengajaran. Disiplin juga merupakan salah satu ciri tenaga kinerja yang berkualitas. Setiap tenaga pelaksana atau guru dituntut memiliki disiplin.
            Pengertian kedisiplinan dilihat dari profesi seorang guru adalah sikap dan nilai-nilai di sekolah agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam meningkatkan kedisiplinan kinerja guru.
1.3  Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti ingin mencari peranan kepala sekolah secara umum yang mendalam pada berbagai sub tugas kepala sekolah dalam hal meningkatkan kedisiplinan kinerja guru. Oleh karena itu, dalam penelitian ini yang menjadi pokok permasalahannya adalah peranan kepala sekolah (Variabel X) dalam meningkatkan kedisiplinan kinerja guru (Variabel Y) di SDN 04 Cranggang Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.

1.4  Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, peneliti mengemukakan beberapa permasalahan yang menjadi sumber kajian dalam pembahasan selanjutnya, perumusan masalah tersebut adalah:
a.       Bagaimana peranan kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin kinerja guru di SDN 04 Cranggang?
b.      Apa saja kendala yang dihadapi oleh kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin kinerja guru di SDN 04 Cranggang?

1.5  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah
1.      Mengkaji peranan kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin kinerja guru di SDN 04 Cranggang.
2.      Mengkaji kendala yang dihadapi oleh kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin kinerja guru di SDN 04 Cranggang.
1.6  Manfaat Penelitian
Dalam penelitian setidaknya dua aspek dari manfaat suatu penelitian yang digunakan, yaitu secara teoritis dan praktik, sehingga apa yang ada dilapangan benar-benar dilandasi oleh hasil penelitian ini dilandasi oleh teori. Dalam kegiatan apapun yang dilakukan diharapkan berguna, demikian pula peneltian ini dilakukan berguna:
1. Manfaat secara teoritis
          Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan ilmu dan kajian pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap disiplin kinerja guru.
2. Manfaat secara praktis
a. Bagi Guru
Memberikan kajian mengenai perankepemimpinan kepala sekolah dalam upaya meningkatkan disiplin kerja guru.
b. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman yang dapat dijadikan bekal untuk menjadi guru serta menambah wawasan keilmuan.


1.7  Variabel
a.       Variabel Bebas: Kepemimpinan Kepala Sekolah
b.      Variabel Terikat: Disiplin Kinerja Guru



BAB II
LANDASAN TEORI
            2.1 Landasan Teori
a.       Teori Kepemimpinan
Menurut Sutisna (dalam Mulyasa, 2002: 107) merumuskan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu. Sedangkan Menurut Soepardi (dalam Mulyasa, 2002: 107) mendefinisikan kepemimpinan sebagaikemampuan untuk mnggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahkan menghukum, serta membina dalam maksud agar manusia sebagai manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administratifnsecara efektif dan efisien. Sedangkan Menurut Manik (2011: 99) mendefinisikan kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku para pemimpin dalam mengarahkan dan mengendalikan para bawahan untuk mengikuti kehendaknya dalam mencapai suatu tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Jadi, secara sederhana kepemimpinan merupakan cara yang dipergunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya.
Menurut Wahjosumidjo (dalam Manik, 2011: 100) Kepemimpinan kepala sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah untuk menggerakkan, mengerahkan, membimbing, melindungi,memberi teladan, memberi dorongan, dan memberi bantuan terhadap sumber daya manusia yang ada di suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga, kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam peningkatan kualitas sekolah.
Dengan demikian Kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan kepala sekolah untuk dapat mengelola dan mengembangkan segala sesuatru yang terdapat dalam sekolah yang ia pimpin. Dengan demikian pentingnya peran kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin kinerja guru. Menurut Mulyasa (2002: 117) kegagalan dan keberhasilan suatu organisasi banyak ditentukan oleh pemimpin karena pemimpin merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuan yang akan dicapai. Dalam rangka melaksanakan MBS, kepala sekolah, sebagai pemimpin harus memiliki kemampuan diantaranya yang berkaitan dengan pembinaan dan peningkatan kinerja guru.
b.      Teori Disiplin Kerja Guru
Menurut Mulyasa (2002: 118) disiplin merupakan sesuatu yang penting untuk menanamkan rasa hormat terhadap kewenangan, menanamkan kerjasama, dan merupakan kebutuhan untuk berorganisasi, serta untuk menanamkan rasa hormat terhadap orang lain. Menurut Depdikbud (1994: 139) peningkatan disiplin guru dalam dalam melaksanakan tugas sangat penting artinya bagi kelancaran dan keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya, tanpa adanya disiplin yang tinggi dalam melaksanakan tugas, tidak mungkin pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan serta hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa “sekolah yang tertib, aman, dan teratur merupakan prasyarat agar siswa dapat belajar secara optimal”. Oleh karena itu, seorang kepala sekolah harus mampu menharus mampu menumbuhkan disiplin. Dalam kaitan ini, kepala sekolah harus mampu membantu para guru mengembangkan pola dan meningkatkan standar perilakunya, serta menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin.
Menurut Tayler dan User (dalam Mulyasa 2002: 118) strategi umum membina disiplin sebagai berikut:
a.       Konsep diri: menekankan bahwa konsep-konsep diri setiap individu merupakan faktor penting dari setiap perilaku.
b.      Keterampilan berkomunikasi: kepala sekolah harus menerima semua perasaan pegawai dengan teknik komunikasi yang dapat menimbulkan kepatuhan dari dalam dirinya.
c.       Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami: perilaku-perilaku yang salah terjadi karena pegawai telah mengembangkan kepercayaan yang salah terhadap dirinya.
d.      Klarifikasi nilai: strategi ini dilakukan untuk membantu pegawai dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri.
e.       Latihan keefektifan pemimpin: metode ini bertujuan untukmenghilangkan metode represif dan kekuasaan, misalnya hukuman dan ancaman melalui model komunikasi tertentu.
f.       Terapi realitas: pemimpin perlu bersikap positif dan bertanggung jawab.
Jadi, untuk menerapkan berbagai strategi tersebut, kepala sekolah harus mempertimbangkan berbagai situasi, dan perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2.2  Kerangka Berpikir
Permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dalam satuan pendidikan. Untuk mewujudkan peningkatan mutu sumber daya manusia suatu bangsa, kegiatan yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan didalamnya termasuk pengembangan pelaksanaan proses belajar mengajar. Pemahaman-pemahaman dan pengembangan keterampilan-keterampilan, metode mengajar guru, ternyata hal ini tidak lepas dari pengaruh peran Kepala Sekolah sebagai  pendidik dalam upaya meningkatkan kinerja guru.
Tugas guru erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan. Oleh karena itu perlu upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja guru, agar peningkatan mutu pendidikan dapat berhasil. Kinerja guru akan menjadi optimal, bila diintegrasikan dengan komponen sekolah seperti kepemimpinan kepala sekolah. Dengan demikian kepemimpinan kepala sekolah akan ikut menentukan baik buruknya kinerja guru. Dengan kata lain, kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru.
Maka apabila kepala sekolah dapat memerankan perannya sebaik mungkin maka akan berpengaruh baik untuk meningkatkan disiplin kinerja guru yang akan berpengaruh dalam proses belajar yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas mutu pendidikan melalui sumber daya manusianya di tingkat satuan pendidikan dasar.



BAB III
METODE PENELITIAN
    3.1 Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono (2010: 15) metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi (gabungan), dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Jenis penelitian ini menggunakan asosiatif kausal. Menurut Sugiyono (2010:59) penelitian jenis kausal adalah yang bersifat sebab akibat. Artinya dalam penelitian kausal  ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi).
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Sugiyono (2010: 117) mengartikan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel menurut Sugiyono (2010: 118) adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan populasi, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasusu tertentu yang ada pada situasi sosial tertentu dan hasil kajiannya tidak diberlakukan ke populasi. Dalam pengambilan sampel penelitian ini menggunakan purposive sampling. Menurut Lincon and Guba (dalam Sugiyono 2010: 301) spesifikasi sampel tidak dapat ditentukan sebelumnya. Jadi, penentuan sampel dalam kualitatif dilakukan saat peneliti mulai memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara/ interview, dan dokumentasi. Karena penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Sugiyono (2010: 194) wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya. Sedangkan observasi menurut Sugiyono (2010: 203) observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain seperti wawancara dan kuesioner.
3.4 Teknik analisis data
Pada penelitian kualitatid menurut Spradley (dalam Sugiyono 2010: 345) teknik analisis data dilakukan dengan analisis domain, analisis taksonomi, analisis kompensial, dan analisis tema kultural. Analisis domain menurut Spradley  (dalam Sugiyono, 2010: 349) merupakan analisis untuk memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari obyek/ penelitian atau situasi sosial. Sedangkan analisis teksonomi menurut Spradley (dalam Sugiyono: 349) merupakan analisis untuk menentukan domain, dimana domain yang dipilih tersebut akan dijabarkan menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya. Analisis kompensial menurud Spradley (dalam Sugiyono, 2010: 349) digunakan untuk mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengkontraskan antar elemen. Sedangkan analisis tema kultural menurut Spradley (dalam Sugiyono, 2010: 348) dilakukan untuk mencari hubungan diantara domain dan bagaimana hubungan dengan keseluruhan, dan selanjutnya dinyatakan ke dalam tema.
3.5 Instrumen
Intrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel. Dalam penelitian ini sebenarnya yang menjadi  instrumen adalah peneliti. Oleh sebab itu peneliti sebagai instrumen juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Akan tetapi disini untuk melengkapi maka peneliti juga memerlukan instrumen untuk wawancara kepala sekolah dan guru yang diteliti sebagai variabel Y.
3.6 Rencana Pengujian Keabsahan Data
Dalam pengujian keabsahan data, penelitian ini menggunakan uji kredibilitas dimana nanti khususnya pada triangulasi. Menurut Sugiyono (2010: 372) triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.  Selain uji kredibilitas penelitian ini menggunakan uji konfirmability. Pengujian konfirmability berarti menguji hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan.



Daftar Pustaka
Rosdina. Murniati. Yusrizal. 2015. Perilaku Kepemimpinan Sekolah dalam Peningkatan Kinerja Guru pada SDN 2 Lambheu Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Administrasi Pendidikan Pascasarjana Universitas Syiah Kuala. Volume 3 No.2 halaman 69-78 ISSN: 2302- 0156. Banda Aceh. Universitas Syiah Kuala.
Indra, Ristapawa. 2016. Kepemimpinan dan kepengurusan sekolah. Jurnal kepemimpinan dan kepengurusan Sekolah.Vol:1 No:1. 2502-6445. Ranah pesisir. lembaga penelitian pengabdian kepada masyarakat STKIP Pesisir Selatan.
Manik, ester. Bustomi Kamal. 2011. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja guru pada SMP Negeri 3 Rancaekek. Jurnal ekonomi, bisnis dan enterpreunership. Volume:5 No:2. Hlm: 97-107. 2443-0633. Bandung. STIE Pasundan.
Rompas, Parabelem T.D. 2011. Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap peningkatan efektivitas kerja guru-guru di SMK Kristen Getsemani Manado.Jurnal pendidikan teknologi dan kejuruan. Vol:2 No:2 hlm: 28-37.2087-3581. Manado.
Pecheone, Raymond. Chung, Ruth R. 2006. Evidence in teacher education the performance assesment for california teacher. Vol: 57 No:1 Hlm: 23-36.  DOI: 10.1177//0022487105284045. American Association Of College for Teacher Education. Stanford University.
Sugiyono. 2010. Metode penelitian pendidikan.Bandung: Alfabeta
Fattah, Nanang. 2012. Sistem Penjaminan Mutu pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hamalik, Oemar. 2006. Pendidikan guru berdasarkan pendekatan kompetensi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Tuntunan Lengkap Metodologi Praktis Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Diva Press.
Mulyasa. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

INSTRUMEN

PEDOMAN OBSERVASI DAN DOKUMENTASI
   Dalam pengamatan (observasi) yang dilakukan adalah mengamati “Pengaruh Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Disiplin Kerja Guru Di SDN 04 Cranggang.”
a.       Tujuan:
Untuk memperoleh informasi dan data terkait dengan “Pengaruh Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Disiplin Kerja Guru Di SDN 04 Cranggang.”
b.      Aspek yang diamati
1.      Disiplin kerja guru
2.      Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan disiplin kerja guru
3.      Kendala yang dialami kepala sekolah dalam upaya meningkatkan disiplin kinerja guru.
4.      Upaya peningkatan disiplin guru oleh guru itu sendiri
    Untuk pedoman dokumentasi menggunakan instrumen semacam kamera untuk mendokumentasikan hasil dan alat-alat pendukung observasi yang lainnya disesuaikan dengan kondisi saat penelitian karena penelitian ini bersifat natural jadi tidak bisa sepenuhnya direncana.
                                   




PEDOMAN WAWANCARA
1.      Pertanyaan Panduandi tujukan kepada kepala sekolah
a.       Identitas Diri
1.    Nama dan gelar :
2.    NIP :
b.      Pertanyaan Penelitian:
1.      Apakah guru di SDN 04 Cranggang sudah termasuk kategori tertib dalam kedatangannya ke sekolah? Mengapa?
2.      Hal apa yang dibiasakan seorang guru untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan mempersiapkan siswa untuk memulai pelajaran?
3.      Apa dampaknya apabila guru datang terlambat?
4.      Pernahkan guru tidak tuntas dalam membahas materi yang seharusnya pada jam pelajaran waktu itu? Mengapa ?
5.      Apakah semua guru sudah sudah menyusun program pengajaran sebelum menyampaikan materi di depan kelas? Mengapa? Bagaimana dampaknya?
6.      Dalam melaksanakan evaluasi, apakah semua guru sudah melakukan langkah-langkah yang benar?
7.      Masihkah ada guru yang yang tidak memeriksa dan mengembalikan hasil evaluasi belajar siswa?
8.      Apakah semua peraturan mengenai tata tertib dan disiplin sudah dapat di sepakati dan dilaksanakan semua guru? Mengapa?
9.      Apakah persepsi dan keinginan mengenai pelaksanaan tugas yang dimiliki guru membuat mereka sulit di kendalikan ? mengapa?
10.  Bagaimana cara anda memperkenalkan disiplin tata tertib  kepada guru sehubungan dengan pelaksanaan kerja di sekolah?
11.  Bagaimana cara anda memberikan teguran terhadap guru yang melanggar disiplin kerja?
12.  Apakah anda sudah membuat bukti tertulis bagi guru yang melanggar  disiplin kerja? Mengapa?
13.  Bagimana cara anda dalam mengevaluasi pelaksanaan disiplin guru dalam mengajar?
14.  Bagaimana cara anda memberikan contoh teladan yang baik kepada guru dalam menegakkan disiplin kerja?
15.  Apakah menurutmu insentif penting diberikan kepada guru-guru yang menegakkan disiplin kerja ? Mengapa?
16.  Apakah percepatan kenaikan gaji berkala dan kenaikan pangkat bagi guru yang disiplin itu penting dan sudahkah dilakukan? Mengapa?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar