Selasa, 02 Desember 2014

persahabatan

Bagiku, persahabatan itu indah. Karena sahabat bisa membuat kita merasakan senang, tertawa, bersedih, marah, jengkel, dan lain lain.
Dan itulah yang terjadi padaku. Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Dina. Kami selalu tertawa riang bersama. Hingga pada suatu hari Dina menjauhi dan melupakanku. Entah kenapa sejak aku sering membuatnya jengkel, ia pergi. Mencari teman penggantiku. Mungkin ia merasa sakit hati padaku. Aku sedih dan menyesal. Aku ingin minta maaf padanya, tapi aku malu. Karena telah menyakiti perasaannya.
Karena peristiwa itulah, persahabatanku dan Dina pun menjadi renggang. Bahkan, senyum pun tak pernah dilemparkan saat kami bertemu.
Melihat situasi yang sudah sangat parah ini, aku pun bertekad ingin mengucapkan maaf secara langsung kepadanya. Tak kupedulikan lagi rasa malu dan bersalah itu. Aku pergi ke rumahnya, dan berharap ia bisa menerima dan memaafkanku. kuketuk pintu rumahnya. Tapi, setelah pintu dibuka. Kulihat Dina berdiri dengan wajah yang cemberut, ke arahku.
“Hai, Dina. Lama kita tak berbicara. Bagaimana kabarmu?” tanyaku penuh harap cemas.
“Tenanglah, aku baik tanpa kamu. Sebenarnya apa maksud kedatanganmu ke sini? Tapi maaf, kalau soal kesalahanmu yang dulu itu, aku belum bisa memaafkan!”
“Tapi…”, belum aku menjelaskan sesuatu halpun, Dina langsung menutup pintu dengan kerasnya.
Aku langsung pulang ke rumah. Takut nanti Dina tambah marah kepadaku kalau aku masih tetap berdiri di depan rumahnya. Aku telah gagal membuat hubungan kami menjadi baik kembali. Aku pun hampir putus asa. Mungkin tak ada jalan lain lagi. Aku dan Dina mungkin sudah ditakdirkan untuk tidak bersama.
Hari demi hari pun berganti. Tak terasa, aku dan Dina tidak pernah lagi berpapasan apalagi bercakap-cakap. Hidupku tambah suram saja.
Hari itu, kebetulan aku sedang bersepeda untuk pulang ke rumah melintasi jalan yang menuju ke rumahku. Tiba-tiba, sayup-sayup kudengar orang meminta tolong.
“Tolong… Tolong…!”
Langsung kudekati arah suara itu. Saat kudekati ternyata itu adalah Dina yang terjatuh dari sepedanya. Kakinya terkilir dan luka. Lalu langsung kubantu berdiri dan kuajak Dina dengan susah payah kembali ke rumahnya, untuk diobati.
Setelah Dina diobati, Dina menatap ke arahku sambil menahan isak tangis, “Terima kasih, ya, Hani, atas pertolonganmu. Dan aku minta maaf karena selama ini tak memaafkanmu. Membuatmu sedih.”
“Tidak apa-apa, Din. Aku ikhlas menolongmu karena kamu adalah sahabatku, dan aku sangat senang kamu bisa memaafkan kesalahanku. Akhirnya, beban yang menggumpal di hatiku ini sudah lenyap.”
Aku tersenyum setelah mengucapkan kata-kata itu. sungguh, aku sangat senang bisa bersahabat kembali dengan Dina. Dan itulah yang kusebut sahabat, seseorang yang`kan selalu ada buatmu, walaupun ia telah menyakiti hatimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar