Jumat, 05 Desember 2014

tugasku



TUGAS RESENSI
 DIKUTIP DARI BUKU DIN AL-ISLAM


Nama    : Desi aprilliani
Kelas     : B
Makul    : Pendidikan Agama Islam
Nim              : 2014-33-055





IDENTITAS BUKU
Judul               : Din Al-islam
Penulis             : Tim dosen PAI UNY
Penerbit           : UPP IKIP yogyakarta
Cetakan           : II, 2002
Tebal               : 144 halaman

PENULIS

1.      Drs. Suroyo, M.A.
Menyelesaikan studinya di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Program masternya diperoleh di Amerika. Sekarang menjadi dosen tetap di Fakultas Tarbiyah IAIN sunan kalijaga yogyakarta, termasuk ikut mengampu mata kuliah PAI di UNY. Pernah menjabat Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga dan pernah menjabat P. R. III Universitas islam indonesia Yogyakarta.
2.      Drs. Noor Matdawan
Dilahirkan di Riau 3 Oktober 1940. Menyelesaikan studinya di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sejak tahun 1970 hingga sekarang menjadi dosen tetap di lembaga yang sama dan ikut mengampu mata kuliah PAI di UNY dan UGM Yogyakarta hingga sekarang.

3.      Drs. Abdurrachim
Dilahirkan di Panarukan (Madura) 3 februari 1935. Menyelesaikan studinya di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sejak tahun 1969 hingga 2000 menjadi dosen tetap di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mata kuliah pokok Ilmu Falak dan ikut Mengampu mata kuliah PAI di UNY hingga sekarang. Pernah menjabat wakil dekan Fakultas Syariah tahun 1975 dan pernah menjabat P.R. I IAIN Sunan Kalijaga tahun 1985
4.      Drs. L. Amin Widodo
Menyelesaikan Studinya di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan kemudian menjadi dosen tetap di lembaga tersebut dengan mata kuliah pokok fikih siyasah. Juga mengajar di beberapa perguruan tinggi lain di Yogyakarta, termasuk ikut mengampu mata kuliah Pai di UNY.
5.      Drs. R.M.A. Hanafi
Menyelesaikan studinya di Fakultas Dakwah  di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang menjadi dosen tetap dan menjadi ketua STAIMS Yogyakarta. Juga mengajar di PAI di beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Di samping itu juga aktif dalam kegiatan dakwah islam di dalam dan luar negeri.
6.      Drs. Rifa’i Abu Bakar
Dilahirkan di kecamatan singkep (riau) 4 juli 1961. Menyelesaikan studinya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga tahun 1989. Sedang mengikuti studi S-2 di universitas muhammadiyah yogyakarta. Menjadi dosen tetap di STAIM Yogyakarta dan ikut mengampu mata kuliah PAI di UNY.
7.      Drs. Mohammad Zaim, M.Ag
Dilahirkan di Yogyakarta 19 September 1938. Menyelesaikan studinya di Fakultas ushuludin jurusan Filsafat Islam tahun 1966. Menjadi dosen tetap di Fakultas Teknik UNY sejak tahun 1968 hingga sekarang dengan mata kuliah pokok PAI. Pernah menjabat sebagai pembantu Dekan III FKT IKIP tahun 1978.
8.      Drs. Ajar sudrajat, M.Ag
Dilahirkan di Ciamis 21 maret 1962. Menamatkan studinya di Fakultas Ushuludin IAIn Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1997/1998. Studi S-2nya di selesaikan di pascasarjanaIAIN syarif hidayatullah jakarta tahun 1995. Sekarang menjadi dosen tetap di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta dengan mata kuliah pokok Pendidikan Agama Islam dan Sejaranh Peradaban Islam.
9.      Drs. Marzuki, M.Ag
Dilahirkan di Banyuwangi, 21 April 1966. Menamatkan studinya di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1990. Studinya S-2nya diselesaikan di pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1997. Sekarang menjadi dosen tetap di jurusan PPKN Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta dalam mata kuliah Hukum Islam dan Pendidikan Agama Islam.
10.  Drs. Suparlan
Dilahirkan di Kebumen tahun 1964. Menyelesaikan studinya di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1990. Tahun 2002 masih mengikuti Program Pascasarjana di UNPAD Bandung jurusan Sosiologi. Mulai taun 1992 hingga sekarang menjadi dosen tetap di UNY dengan mata kuliah pokok PAI.



11.  Dra. Mami Hajaroh, MPd.
Dilahirkan di kota Yogyakarta tahun 1968. Menyelesaikan Studinya di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1990. Studi S2nya diselesaikan di program pascasarjana IKIP Yogyakarta jurusan penelitian dan evaluasi pendidikan. Sejak tahun 1992 hingga sekarang menjadi dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan UNY dengan mata kuliah pokok PAI.
12.  Amir Syamsudin, S.Ag
Dilahirkan di Ciamis tahun 1973. Menyelesaikan studinya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Jurusan Aqidah Filsafat tahun 1997. Studi S2-nya di program Pascasarjana di IAIN yang sama sejak tahun 2000 menjadi dosen IAIN Yogyakarta yang diperbantukan di UNY dengan mata kuliah pokok PAI.



ULASAN BUKU

Penyusunan Buku Teks PAI ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, yang menempuh mata kuliah Pendidikan Agama Islam.Buku PAI ini secara umum menyajikan Pendidikan Agama Islam dalam tiga bagian kajian. Pertama, berisi kajian pengantar keislaman yang berisi pengenalan tentang hubungan manusia dan agama, agama islam, sumber-sumber ajaran islam yang terdiri dari al-Qur’an, as-Sunnah, dan sumber-sumber pendukung yang menjadi bagian dari ijtihad, serta kerangka dasar ajaran islam. Kedua, berisi kajian pokok tentang keislaman yang terdiri dari uraian tentang 3 kerangka dasar ajaran islam, yaitu Aqidah, Syariah dan Akhlaq. Tiga konsep ajaran inilah yang menjadi inti dari kajian pengantar bidang kajian keislaman yang ada,tetapi hanya sebagiannya saja, seperti tentang taqwa, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, psikologi, gender, dan kerukunan hidup umat beragama .
MANUSIA DAN AGAMA

 Adapun fenomena yang akan membuktikan baha naluri manusia/kodrat manusia itu beragama islam
a.        Tentang doa keselamatan
Setiap orang pasti ingin mendapatkan keselamatan. Ia merasa dirinya terancam. Karena ancaman tersebut ia ingin berpegangan dan menyandakan diri kepada sesuatu yang ia anggap sebagai yang maha ghaib dan maha kuasa.
b.      Tentang kebahagiaan abadi
Setiap orang ingin mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang ia harapkan bukanlajh kebahagiaan yang sementara tetapi kebahagiaan abadi.
c.       Memperhatikan tubuh kita sendiri.
Dengan merenungkan dan memperhatikan tubuhkita sendiri sebagai manusia dengan kerangka dan susunan badan yang indah dan serasi dengan indra hati dan otak yang cerdas untuk menanggapi segala sesuatu di kanan kiri kita, akan sadar bahwa kita bukan ciptaan manusia, tetapi ciptaan sang maha pencipta, zat yang maha ghaib.
d.      Apabila kita mendapatkan persoalan yang dilematis
Orang hidup sering kal dihadapkan kepada berbagai perbuatan yang harus dipilih.anehnya ia baru merasa puas dan mantap apabila pilihannya telah disandarkan kepada sesuatu yang ia anggap Zat yang Ghaib yang seolah-olah memberikan kepastian dan kemantapan pilihannya.
e.        Pengalaman Dr. Lupini dan Jerman
Seorang doktor dari jerman yang di bantukan kepada fakultas kedokteran di UGM. Pada tahun 1955 memberikan ceramah di islamic study clubs (ISC). Ia ikut pada perang dunia II sebagai tentara Nazi Jerman. Dia menyatakan diri sebagai atheis. Di dalam peperangan dia terisolir dari teman-temannya dalam kecemasannya ia dihujani oleh peluru musuh. Dalam keikutannya dia secara tidak sadar mengucapkan “oh god, save my soul (ya tuhan, selamatkan jiwa saya).[1]
Gambaran Manusia Beragama (ekspresi religius)
Gambaran pokok manusia beragama ialah penyerahan diri kepada sesuatu yang maha ghaib lagi maha agung. Ia tunduk lagi patuh dengan rasa hormat dan khidmat dan selalu berdo’a, bersembahyang dan berpuasa sebagai hubungan vertikal (hablummanallah) dan ia juga berbuat segala sesuatu kebaikan untuk kepentingan sesama umat manusia (hablumminannas).


Manakah Agama Yang Benar
Agama yang benar adalah agama monotheisme. Hal ini diperkuat oleh dua alasan 1) alasan historis atau kesejarahan.  2) alasan logika. Didalam ajaran agama islam ajaran monotheisme (tauhid) diterapkan jelas di dalam al-Quran
Katakanlah: Dialah Allah yang maha esa : Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya-Nya segala sesuatu: dia tiada berputra dan tiada pula di putrakan. Dan tidak ada siapapun yang setara dengan Dia.[2]
Jelas Bahwa konsep islam dibidang teologi tentang monotheisme cukup jelas dan tegas mana yang khaliq dan mana yang makhluk, mana yang disembah dan mana yang menyembah. Jadi, bahwa dari bidang teologi islam termasuk agama yang paling kuat, jelas dan tegas. Bahkan al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa agama yang paling benar di sisi allah adalah agama islam. [3]
AGAMA ISLAM
Secara etimologi agama berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari dua kata: “a” berarti tidak, dan “gama” berarti kacau,kocar-kacir,, atau berantakan. Dengan kata lain bahwa agama itu membawa hidup yang teratur dan terarah.
Dalam bahasa arab dikenal dengan sebutan “din”ndan”mallah”. Tetapi kata din-lah yang paling tepat untuk menyebut agama islam, sehingga menjadi din al-islam.dalam al-Qur’an penggunaan kata din bisa dilihat misalnya dalam surat Ali-imran (3): 19 dan 85. Surat al-Maidah (5): 3, dan masih banyak lagi, sedang penggunaan kata millah yang berarti agama bisa dilihat dalam firman allah berikut ini:
            Katakanlah sesungguhnya aku telah dipimpin oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus (yaitu) agama (din) yang benar: agama (millah) ibrahim yang benar , dan ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.[4]
            Macam-macam agama dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu samawiyah[5] dan ardhiyah[6]. Agama samawi bisa disebut juga dengan tauhid , yang berasal dari kata wahhada yang berarti menganggap satu. Agama samawi adalah agama pertama di dunia yang dibawa nabi adam sampai yang diawa nabi muhammad saw.agama samawi pada prinsipnya adalah islam. Terbukti dalam al-qur’an umat para nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad SAW. Dalam al-qur’an disebut dengan “muslim” yakni:
 Dan ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula ya’qub, (ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhya allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam[7]
            Yang kedua ialah, agama ardhiyah atau agama budaya karena konsep ajarannnya dari cipta rasa dan karsa manusia.Agama ardhiyah tidak memiliki nabi atau rasul sebagaimana agama samawi, dan tidak memiliki kitab suci yang murni. Kitab suci yang ada hanyalah susunan atau rumusan dari para pemimpin pendiri agama tersebut yang dari waktu kewaktu akan berubah seiring dengan perkembangan wkatu dan budaya.
            Islam sebagai agama yang terakhir memiliki kedudukan yang istimewa dari agama samawiyah yang sebelumnya yaitu: Pertama,sebagai penyempurna dari agama samawi sebelum nabi Muhammad SAW. Bersifat universal, tanpa terbatas ruang dan waktu, untuk siapa saja, kapan saja, dan dimanapun manusia berada. Kedua, islam mengontrol ajaran-ajaran pokok dan agama samawi seperti firman allah dalam quran Q.S. at-Taubah (9): 30
            Orang-orang yahudi berkata: (uzair itu putera allah) dan orang nasrani berkata: (al-Masih itu putera allah). lalu ajaran ini dikontrol oleh islam melalui firman allah pada Q.S. al-Ikhlas ayat 1-4. Dan yang ketiga, islam mengakui semua para nabi/rasul terdahulu sebelum Nabi Muhammad tanpa membedakan satu sama lain karena ajarannya sama,yaitu tauhid.

SUMBER-SUMBER AJARAN ISLAM
a.      Al-Qur’an
Firman allah yang diturunkan kepada nabi muhammad melalui perantara malaikat jibril secara berangsur-angsur dalam bahasa arab dan apabila dibaca dan diamalkan bernilai ibadah.berfungsi sebagai sumber hukum yang utama.
b.      As-Sunnah atau al-Hadits
Sikap atau tingkah laku dan perbuatan yang datang dari nabi. Terdiri dari 3 aspek yaitu qouliyah[8],fi’liyah[9], dan taqririyah[10]. Berfungsi sebagai sumber hukum setelah al-Qur’an.
c.       Al-Ijma’
Persepakatan para mujtahid muslim pada suatu masa, setelah wafatnya Rasul, tentang ketetapan hukum terhadap suatu kasus.
d.      Al-Qiyas
Mempersamakan ketentuan fenomena yang belum ada aturan hukumnya dengan fenomena yang sudah diatur dalam nash karena persamaan illat hukum dari kedua fenomena tersebut.sebagai contoh dapat dikemukakan hukum minuman khamara adalah haram, seperti termuat dalam firman allah:
Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamar, berjudi (berkorban untuk) berhala mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji,termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah peruatanperbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan[11].
KERANGKA DASAR AJARAN ISLAM

Kerangka dasar ajaran islam itu ada tiga,yaitu iman, islam dan ihsan. Dari tiga konsep tersebut para ulama’ para ulama’ mengembangkan menjadi tiga konsep kajian. Konsep iman melahirkan konsep kajian aqidah[12]. Konsep islam melahirkan konsep kajian syari’ah[13]. Konsep ihsan melahirkan konsep kajian akhlaq[14].
            Ruang lingkup pembahasan akidah meliputi ilahiyah(pembahasan yang berhubungan dengan tuhan), nubuwwah(pembahasan yang berhubungan dengan nabi dan rasul), ruhaniah (pembahasan yang berhubungan dengan alam metafisik), sam’iyah( pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui melalui dalil naqli berupa al-Qur’an dan as-Sunnah).[15]
            Kajian syari’ah tertumpu pada masalah aturan Allah dan Rasul-Nya atau masalah hukum. Aturan atau hukum mengatur manusia dalam berhubungan dengan Tuhannya (hablum minallah) dan dalam berhubungan dengan sesamanya (hablum minannas).
            Kajian akhlaq adalah tingkah laku manusia, atau tepatnya nilai dari tingkah lakunya, yang bisa bernilai baik (mulia) atau sebaliknya bernilai buruk (tercela). Yang dinilai disini adalah tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, yakni dalam melakukan ibadah, dalam berhubungan dengan sesamanya,yakni dalam bermuamalah atau dalam melakukan hubungan sosial antar manusia, dalam berhubungan dengan makhluk hidup yang lain seperti binatang dan tumbuhan, serta dalam berhubungan dengan lingkungan atau benda-benda mati yang juga merupakan makhluk tuhan. Secara singkat hubungan akhlak ini terbagi menjadi dua, yaitu akhlak kepada khaliq (allah sang pencipta) dan akhlak kepada makhluk (ciptaan-Nya).
            Hubungan antara Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak sangat erat, bahkan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian ketiganya dapat dibedakan satu sama lain. Aqidah sebagai konsep atau sistem keyakinan yang bermuatan elemen-elemen dasar iman, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Syari’ah sebagai konsep atau sistem hukum berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sedangkan akhlak sebagai sistm nilai etika menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai oleh agama. Oleh karena itu, ketiga kerangka dasar tersebut harus terintegrasi dalam diri seseorang muslim. Ibarat ketiganya sebuah pohon, akarnya adalah akidah, sementara batang dahan, dan daunnya adalah syariah sedangkan buahnya adalah akhlak.

TAQWA
Taqwa secara harfiah berasal dari kata kerja “waqa-yaqi-wiqayah”, yang berarti terjaga dan terpelihara. Secara istilah adalah menjalankan segala perintah Allah yang apabila dijalankan berdampak positif dan menjauhi segala larangan allah yang apabila dilanggar mempunyai resiko bagi yang melakukan dan bila berkembang maka orang lain juga merasakan akibatnya. Taqwa berfungsi sebagai pengembangan fitrah/kesucian manusia, baik komponen jasmani atau rohani, sesuai dengan ketentuan tuhan tuhan, yang berarti sikap rela diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan mengikuti hukum-hukumnya.
Sebagai contoh dalam pelaksanaan berpuasa yang bertujuan menuju taqwa. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan juga atas orang-orang sebelummu, semoga kamu menjadi orang yang bertaqwa.”[16]
Taqwa berfungsi sebagai penyucian atau pembersih penyakit batin, dan bekal seseorang untuk menghadapi kematian. Taqwa juga bisa sebagai bentuk perjuangan atau jihat dalam rangka menjalankan perintah dan sekaligus menjauhi larangan yaitu suatu kemampuan maksimal untuk mencapai tujuan ridlo allah SWT. Allah berfirman:
“Sungguh bahagia atau beruntung orang-orang yang dapat mensucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya”[17]

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

            Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk bertindak adil. Salah satu indikasi keadilan dalam tindakan ialah membuat keputusan berdasarkan informasi yang benar dan akurat. Untuk mendapatkan akurasi informasi diperlukan tindak penelitian. Penelitian merupakan proses sekaligus proses menyusun ilmu pengetahuan yang muatan informasinya benar dan akurat. Secara ringkas, dalam doktrinal, islam tidak bertentangan dengan cara kerja ilmu pengetahuan.
            Demikian pula sumber pengetahuan menurut ajaran islam tidak tercerai-berai menjadi akal budi lawan pengalaman inderawi, atau kenyataan konkrit berlawanan dengan kenyataan ghaib, karena baik akal budi atau pengalaman inderawi maupun kenyataan konkrit atau kenyataan ghaib, keduanya merupakan sumber pengetahuan yang sah sekaligus bagian terkecil dari keseluruhan ciptaan Tuhan.
            Cara menyusun ilmu pengetahuan sepenuhnya hasil “ijtihad”/ daya kreasi manusia. Cara penyusunan ini bisa melalui model aktivitas penalaran diantaranya abduksi[18], deduksi[19], dan induksi[20]. Islam hanya berkepentingan dengan perilaku etis manusia ketika mereka ingin menggunakan hasil ijtihad mereka tersebut. Al-Qur’an menyatakan “telah jelas dan berbeda antara jalan lurus dengan jalan sesat”. Apakah ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan digunakan untuk memakmurkan bumi atau menghancurkannya; Apakah aktivitas penelitian yang dilakukan ditujukan untuk memberikan kesejahteraan pada  sebanyak mungkin manusia atau justru untuk menyengsarakannya. Nestapa manusia berawal dari kebodohannya dan berakhir dengan menyalahgunakan kepintarannya (asy).

ISLAM DAN KEPEMIMPINAN

            Dalam agama islam pemimpin memiliki berbagai istilah seperti khalifah yang berarti pengganti; wakil Allah di bumi. Khalifah juga berarti pengatur dan penguasa yang berwenang mengatur kehidupan dunia.
            Istilah lain ditemukan dalam Q.S. Al-israa’ (17): 71 yaitu al-Imam yang sering dimaknai secara lebih kusus untuk menyebut pemuka agama, pemimpin agama atau pemimpin spritual.
            Imam berarti seorang pemimpin atau orang yang berada di muka, sebagai firman Allah SWT:
Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.[21]
            Sehingga khalifah adalah tanggung jawab umum yang sesuai dengan tujuan Syara’, yaitu bertujuan menciptakan kemaslahatan ukhrawi dan duniawi bagi ummat yang mengikutinya, karena kemaslahatan duniawi seluruhnya harus dirujukan kepada syara’. Karena adanya tujuan ukhrawi itu, orang yang melaksanakan fungsi kekhalifahan atau imamah disebut “khalifah” atau “imam”[22]
            Kepemimpinan dalam perspektif islam harus memiliki kriteria sebagai berikut:
1.      Memiliki aqidah yang kuat dan konsisten
2.      Memiliki kekuatan jasmani dan rohani
3.      Memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas
4.      Adil dan jujur[23]
5.      Berakhlak mulia yang bisa menjadi teladan [24]
6.      Memiliki tingkat pengalaman agama islam yang tinggi
7.      Bersikap terbuka terhadap ide,saran, maupun kritik[25]
8.      Memperoleh dukungan dan dicintai oleh umat
9.      Memiliki sifat pemaaf dan jiwa toleransi yang besar[26]
10.  Harus ahli dibidangnya
11.  Memiliki jiwa kreatifitas
12.  Visinya adalah Al-qur’an dan misinya adalah menegakkan kebenaran di muka bumi
Prinsip-prinsip kepemimpinan dalam islam bisa dijelaskan sebagai berikut
1.      Tidak memilih orang kafir sebagai pemimpin[27]
2.      Setiap kelompok harus memilih pemimpin.
3.      Pemimpin haruslah orang-orang yang dapat diterima.
4.      Pemimpin yang muthlak adalah Allah SWT[28]
5.      Memperhatikan kepentingan kaum muslimin.
Seorang pemimpin islam juga harus memiliki akhlak pemimpin islam yakni perilaku yang mulia (akhlak karimah) yang harus menjadi hiasan hidup seoarang pemimpin islam dalam melaksanakan tugas-tgas kepemimpinannya. Diantara akhlak yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah:
a.       Berlaku amanah[29]
b.      Berlaku jujur
c.       Mencintai kebenaran
d.      Ikhlas[30]
e.       Berlaku adil
f.       Memelihara kesucian diri.
g.      Pemaaf
h.      Tawadlu[31]
i.        Zuhud
j.        Qana’ah[32]
k.      Mempunyai kemauan yang keras
l.        Penyantun dan lapang dada
m.    Hikmah[33]
n.      Bersikap melayani bukan dilayani
Kewajiban-kewajiban pemimpin islam diantaranya:
a.       Menjaga ajaran-ajaran pokok agama dalam bentuknya yang benar
b.      Melaksanakan hukum yang adil diantara umat yang bersengketa
c.       Melakukan jihad
d.      Melimpahkan dan mempercayakan tugas-tugas negara kepada orang-orang dan tokoh-tokoh yang loyal  terhadap pemerintah
e.       Menjaga keamanan dalam negeri
f.       Memungut zakat,infaq, dan sadaqah
g.      Bermusyawarah dalam setiap urusan
h.      Mengatur kemakmuran rakyat
i.        Membela dan menghidupkan agama
j.        Melaksanakan keputusan hasil kesepakatan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berdampak global yang membawa kemajuan dan tantangan kemanusiaan serta berdampak negatif yang memerlukan pemecahan secara tepat. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mampu mengantisipasi menghadapi problem global yang semakin menantang itu diperlukan sosok pemimpin islam masa depan yang berkarakteristik antara lain: visionary thingking[34], leadership skill[35], self motivation[36], self management[37], efektif comunication[38], strategic management[39], interpersonal comunication[40],memiliki akidah yang kuat dan mantap, memiliki kemampuan akomodatif, memiliki landasan kerjasama yang kuat dan solidaritas yang tinggi, memiliki sikap tasamuh (toleransi).

ISLAM DAN PSIKOLOGI
Psikologi merupakan kelanjutan studi tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan sistematika dan metode ilmiah. Psikologi secara harfiah berasal dari kata psyche=jiwa dan logos=ilmu. Secara harfiah berarti psikologi diartikan sebagai ilmu jiwa. Akan tetapi sebenarnya obyek psikologi bukanlah jiwa,karena jiwa tidak dapat dipelajari secara ilmiah.[41]
Salah satu agenda penting yang harus diperhatikan oleh muslim yang mempelajari psikologi adalah mencoba pempelajari psikologi dengan visi islam.
Fuad Nashori (1997: 2-4) menjelaskan setidaknya ada usaha untuk mengintegrasikan psikologi dalam islam, yaitu:
a.       Psikologi digunakan sebagai pisau analisis masalah-masalah ummat islam
b.      Islam dipakai sebagai pisau analisis untuk menilai konsep-konsep psikologi
Hanna djumhana bastaman menjelaskan bahwa sampai dengan Abad  XXI ini terdapat empat aliran besar psikologi, yaitu:
a.       Psikoanalisis
b.      Psikologi perilaku
c.       Psikologi humanistik
d.      Psikologi transpersonal
Menurut sigmun freud, sang pendiri psikoanalisis, kepribadian manusia terdiri atas id[42], ego[43], dan super ego[44].
            Psikoanalisis memandang perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh masa lalu, alam tak sadar, dan dorongan-dorongan nafsu yang selalu menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi. Psikoanalisis memandang hakikat manusia adalah buruk,liar,kejam,kelam,non etis, dan berkiblat pada kenikmatan jasmani.
            Dalam pandangan Psikologi Perilaku manusia adalah netral, baik buruknya perilaku terpengaruhi oleh situasi dan perlakuan yang dialami.Sedangkan dalam pandangan Psikologi humanistik manusia pada dasarnya adalah baik.
            Manuisa dalam pandangan islam ialah makhluk Tuhan yang mempunyai kepribadian, memiliki keunikan dan keistimewaan tertentu. Di dalam al-Qur’an terdapat uraian tentang manusia sebagai makhluk biologik[45], makhluk psikologik[46], dan makhluk ruhaniah[47].
Apabila mencermati, baik psikologi maupun al-Qur’an keduanya membicarakan manusia dalam berbagai dimensinya. Kedua pendapat tentang manusia baik dari sisi psikologi maupun islam keduanya dapat dikerjasamkan untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi manusia guna mencapai tujuan hidupmyang dikehendaki sesuai dengan kodrat kemanusiannya, diantaranya adalah islam memberikan gambaran tentang citra seorang muslim dalam mencapai tujuan hidup yang diridlai Allah SWT.

                        TOLERANSI DALAM BERAGAMA
Toleransi berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti bertahan atau memikul. Dengan kata lain toleransi adalah sikap lapang dada terhadap prinsip orang lain. Dalam sejarah kehidupan umat islam sikap toleransi telah diletakkan pada saat awal Nabi Muhammad SAW membangun negara madinah dengan melahirkan perjanjian yang disebut dengan piagam madinah[48]. Contoh lain bisa dilihat dari wujud toleransi islam terhadap agama lain diperlihatkan oleh Umar ibn-khathtab. Dengan membuat sebuah perjanjian dengan penduduk yerussalem bahwa umar akan tetap menjamin keamanan di wilayah tersebut.
Kebijakan politik yang dilakukan baik oleh Nabi maupun Umar di atas tentu dengan dasar-dasar pijakan yang terdapat dalam al-Qur’an. Dalam beberapa ayatnya al-Qur’an menyatakan:
            “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (islam): sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang salah...”[49]
            “Dan katakanlah: “kebenaran itu datang dari Tuhanmu: maka barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir”[50]
            “Dan jikalau tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”[51]




GENDER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

            Secara etimologi “gender” berasal dari bahasa inggris yang artinya “jenis kelamin”( echols dan shadily,1983:265). Sementara itu dalam concise oxford dictionary of current english edisi 1990, kata “gender” diartikan sebagai “penggolongan gramatikal terhadap kata-kata benda dan kata-kata lain yang berkaitan dengannya, yang secara garis besar berhubungan dengan jenis kelamin serta ketiadaan jenis keamin(atau kenetralan).
            Secara terminologis H.T. wilson mengartikan “gender” sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan.
            Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa Gender ialah sesuatu sifat yang dijadikan dasar untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi kondisi sosial dan budaya.
            Gender berbeda dengan sex, gender diperkenalkan untuk mengacu kepada perbedaan-perbedaan antara perempuan dengan laki-laki tanpa konotasi-konotasi yang sepenuhnya bersifat biologis, tetapi lebih merujuk kepada perbedaan-perbedaan akibat bentukan sosial.
            Gender dalam perspektif islam ialah memposisiskan kedudukan perempuan setara dengan kedudukan yang diberian kepada laki-laki. Kesetaraan ini bukan berarti menjadikan perempuan sama persis dengan laki-laki dalam segala hal. Tentunya ada batasan-batasan tertentu yang membedakan wanita dengan pria. Posisis perempuan sama dengan laki-laki baik dari segi substansi penciptaannya, tugas dan fungsinya, hak dan kwajibannya, maupun dalam rangka meraih prestasi puncak yang diidam-idamkannya. Islam, melaluikedua sumbernya al-Qur’an dan Sunnah, menetapkan posisi dan kedudukan laki-laki. Dengan kata lain, islam benar-benar menunjukan adanya kesetaraan gender dan tidak menghendaki ketidakadilan atau ketimpangan gender.(mrz)



KEUNGGULAN
 Keunggulan buku ini mampu memberikan informasi tentang kajian pengantar keislaman, kajian pokok keislaman, dan kajian pelengkap tentang pemahaman keislaman secara rinci. Sehingga kita bisa memperoleh informasi sebanyak-banyaknya. Dan dibuku ini juga ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, sehingga apabila para pemula membacanya maka akan mudah sekali pemahaman yang didapatnya dari membaca buku din al-Islam ini.

KEKURANGAN
            Pada dasarnya novel ini hampir tidak mempunyai kelemahan, tetapi satu yang saya lihat. Pada pembahasan kajian tentang pelengkap pemahaman keislaman tidak disajikan semua bidang keislaman yang ada, tetapi hanya sebagiannya saja seperti tentang taqwa, ilmu pengetahuan, kepemimpinan, psikologi, gender, dan kerukunan hidup umat beragama.



KESIMPULAN
            Buku ini sangat layak dibaca, apalagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Karena selain menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami sehingga siapapun yang membacanya akan sangat mudah mengerti isinya, buku din al-Islam jga berisi beberapa kajian tentang keislaman yang sangat lengkap.



[1] Contoh-contoh kepercayaan adanya Zat yang Ghaib dikutip dari buku din al-islam halaman 2
[2] Al-Qur’an surat al-Ikhlas (112): 1-4
[3] Al-Qur’an surat Ali Imran (3): 19 dan 85
[4] Al-Qur’an surat al-An’am (6): 161
[5] Agama langit atau agama wahyu
[6] Agama bumi atau agama budaya
[7] Al-qur’an surat al-Baqarah (2):132
[8] Sesuatu dari nabi Muhammad SAW yang berasal dari nabi berbentuk ucapan-ucapan
[9] Sesuatu dari nabi Muhammad SAW yang berasal dari nabi berbentuk perbuatan-perbuatan
[10] Sesuatu dari nabi Muhammad SAW yang berupa ketetapan-ketetapannya
[11] Al-qur’an surat al-Maidah (5) : 90
[12] Keyakinan atau keimanan
[13] Hukum islam
[14] Tabiat,perangai atau kebiasaan
[15] Ruang lingkup pembahasan aqidah menurut hasan al-banna dikutip dari buku din al-islam halaman 40
[16] Al-qur’an surat al-Baqarah (2): 183
[17] Al-qr’an surat Asy-Syams (91): 9-10
[18] Proses penyimpulan dari suatu kasus tertentu (menurut A. Sonny keraf dan mikhael Dua, 2001:88-96) dikutip dari buku din al-islam halaman 89
[19] Usaha untuk menyingkapkan konsekuensi-konsekuensi dari penjelasan  yang bersifat dugaan (A. Sonny keraf dan mikhael Dua,2001: 97-98)

[20] Cara kerja menyusun ilmu pengetahuan yang berawal dari sejumlah pernyataan kasuistik dan berakhir dengan menarik kesimpulan/ pernyataan umum (A. Sonny keraf dan mikhael Dua,2001: 99-117)

[21] Al-Qur’an surat al-Anbiya’ (21): 73
[22] Pengertian khalifah menurut Ibnu Khaldun dikutip dari buku din al-Islam halaman 94
[23] Kriteria pemimpin dalam Q.S. Ali imran:135, An-nisa’:58, dan Al-maidah:8
[24] Kriteria pemimpin dalam Q.S. Al-ahzab ayat 21
[25] Kriteria pemimpin dalam Q.S. Az-Zumar:18
[26] Kriteria pemimpin dalam Q.S. An-Nahl:126
[27] Prinsip kepemimpinan dalan islam sesuai dengan Q.S. An-nisa’ :144
[28] Sesuai dengan Q.S. Al-Mulk:1
[29] Dapat dipercaya oleh ummat yang dipimpinnya
[30] Akhlaqpemimpin islam sesuai dengan Q.S. Al-insan:9
[31] Merendahkan diri
[32] Hidup sederhana
[33] Bijaksana dalam bertindak
[34] Mampu berpikir dengan paradigma baru
[35] Kemampuan pemimpin dalam mengemban tugas
[36] Kemampuan mengembangkan inisiatif untuk sukses tim
[37] Kemampuan mengembangkan kebiasaan hidup yang efektif
[38] Kemampuan berkomunikasi dengan baik
[39] Kemampuan untuk mengembangkan strategi
[40] Kemauan dan kemampuan untuk menghargai pendapat orang lain
[41] Pengertian psikologi menurut Aziz Ahyadi dikutip dari buku din-alislam halaman 109
[42] Bagian
[43] Bagian dari psikoanalisis yang berfungsi merealisasikan kebutuhan-kebutuhan id
[44] Bagian dari psikoanalisis yang berkembang dari ego menuntut kesempurnaan dan identitas perilaku
[45] Kemampuan memelihara kesehatan yaitu memelihara dan memanfaatkan pemberian Allah SWT
[46] Kemampuan menyesuaikan diri,semangat juang, dan sikap
[47] Selalu taqwa dan tawaqal
[48] Dokumen politik resmi pertama yang meletakkan prinsip kebebasan beragama dan berusaha
[49] Al-Qur’an surat al-Baqarah:256
[50] Al-Qur’an surat al-Kahfi:29
[51] Al-Qur’an surat Yunus:99

Tidak ada komentar:

Posting Komentar